Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Februari 2014

Vitamin E bantu perlambat demensia

Dosis vitamin E yang dipakai dinilai sangat tinggi

Dosis harian vitamin E dapat membantu meringankan penderitaan orang dengan demensia, penelitian menunjukkan.
Sebuah studi pada jurnal JAMA menemukan bahwa penderita penyakit alzheimer tingkat ringan dan sedang yang diberi vitamin E dosis tinggi mengalami tingkat penurunan daya ingat lebih lambat daripada mereka yang diberikan pil dummy.
Mereka mampu melaksanakan tugas-tugas sehari-hari dalam jangka waktu lebih lama dan membutuhkan bantuan lebih sedikit dari penjaga, kata peneliti di Amerika Serikat.
Namun para ahli yang tergabung dalam Alzheimer Society mengatakan dosis yang dipakai sangat tinggi dan mungkin tidak aman.
Dalam studi tersebut, sebanyak 613 orang dengan Alzheimer tingkat ringan sampai sedang menerima dosis harian vitamin E.
Terapi obat ini dikenal sebagai demensia memantine, kombinasi vitamin E dan memantine, atau plasebo.

Kontroversi

Demensia menyerang daya ingat, daya nalar, serta fungsi otak lain

Perubahan kemampuan mereka untuk melaksanakan tugas sehari-hari -seperti mencuci atau berganti pakaian- diukur rata-rata selama lebih dari dua tahun.
"Temuan ini menunjukkan bahwa alpha tocopherol bermanfaat dalam Alzheimer ringan hingga sedang dengan memperlambat penurunan fungsional dan mengurangi beban pengasuh," kata tim yang dipimpin oleh Dr Maurice Dysken dari Minneapolis VA Health Care System.
Mengomentari studi ini, Dr Doug Brown, direktur penelitian dan pengembangan di Alzheimer Society, mengatakan perawatan yang dapat membantu orang dengan demensia melaksanakan tugas sehari-hari adalah kunci untuk memungkinkan orang-orang ini hidup dalam kondisi yang baik selama mungkin.
Namun dia mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat apakah vitamin E benar-benar memiliki manfaat bagi orang dengan demensia, dan apakah aman memakai dosis tinggi setiap hari.

Sumber : BBC Indonesia

Yoghurt Bisa Kurangi Resiko Diabetes

Makan yoghurt dan keju dengan kadar lemak rendah bisa mengurangi resiko terkena diabetes hingga 25% dibandingkan yang tidak mengkonsumsinya sama sekali.
Bukti ini diperoleh dari survey kesehatan jangka panjang terhada warga Norfolk di Inggris. Kebiasaan makan dan minum mereka dipaparkan secara rinci pada awal penelitian. Dalam 11 tahun riset, 753 orang menderita diabetes melitus tipe 2.
Mereka yang makan produk olahan susu dengan kadar lemak rendah, seperti yoghurt dan cottage cheese, 24 persen lebih rendah kemungkinannya terkena penyakit tersebut dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsinya sama sekali.

Yoghurt sebagai cemilan
Saat diperiksa secara terpisah dari produk olahan susu lain, yoghurt diperkirakan bisa mengurangi resiko terkena diabetes hingga 28 persen. Peserta survey di kategori ini rata-rata mengkonsumsi 562,5 gram per minggu.
Mereka yang memilih yoghurt sebagai cemilan dan bukan keripik kentang misalnya, mengalami 47 persen pengurangan kemungkinan terkena diabetes.
Hanya produk olahan susu dengan kadar lemak rendah yang bisa mengurangi resiko diabetes. Konsumsi produk fermentasi dengan kadar lemak tinggi dan susu, tidak ada pengaruhnya.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Diabetologia tidak didesain untuk mengetahui apakah konsumsi produk olahan susu kadar lemak rendah benar menguntungkan.
Efek bakteri probiotik
Selanjutnya, langkah riset tim yang dipimpin Nita Forouhi ahli epidemiologi Universitas Cambridge adalah pengurangan resiko diabetes merupakan efek dari kandungan produk olahan susu dengan kadar lemak rendah seperti bakteri probiotik dan bentuk khusus Vitamin K.
"Di masa dengan banyak bukti lain, bahwa mengkonsumsi makanan dan minuman tertentu dengan kandungan gula adalah buruk untuk kesehatan, sangat lah melegakan penemuan makanan lain seperti yoghurt dan produk olahan susu dengan kadar lemak rendah bisa berdampak baik bagi keseharan," ujar Forouhi.

Sumber : dw.de

Perilaku "diwariskan" ke anak lewat DNA

Perilaku bisa diturunkan melalui sebuah bentuk ingatan genetis dari pengalaman yang dialami oleh generasi sebelumnya, demikian hasil sebuah penelitian terhadap binatang.
Percobaan ini menunjukan bahwa sebuah pengalaman traumatis dapat mempengaruhi DNA pada sperma dan mengubah otak dan perilaku generasi berikutnya.
tikus
Tikus yang menjadi bahan percobaan dikondisikan untuk takut pada wangi bunga sakura
Riset yang dilakukan Nature Neuroscience melakukan uji coba kepada tikus yang dikondisikan untuk takut kepada bau yang mirip bunga sakura.
Tikus yang kemudian menghindari bau itu ternyata menurunkan perilakunya tersebut kepada cucu-cucunya.
Sebuah tim dari Emory University School of Medicine, di Amerika Serikat, lalu melihat apa yang terjadi di dalam sperma tikus tersebut.
Mereka mengatakan ada sebuah bagian di DNA yang bertanggung jawab atas perilaku sensitif terhadap bau, dan ini lebih aktif bekerja dalam sperma tersebut.
Anak dan cucu tikus terbukti "sangat sensitif" terhadap sakura dan akan menghindari bau itu, walau tidak memiliki pengalaman negatif langsung dalam hidupnya. Perubahan struktur otak juga ditemukan.

Penyakit kecemasan

generasi
Pakar menganggap hasil riset ini sangat penting untuk menjelaskan fobia dan penyakit kecemasan pada manusia
"Pengalaman orangtua, bahkan yang terjadi sebelum kehamilan, ternyata mempengaruhi struktur dan fungsi dalam sistem saraf generasi berikutnya," laporan itu menyimpulkan.
Temuan ini memberikan bukti adanya "warisan epigenetik transgenerasi" - bahwa lingkungan dapat mempengaruhi genetika individu, yang nantinya dapat diwariskan ke anak-anaknya.
Salah satu peneliti Dr Brian Dias mengatakan kepada BBC: "Ini mungkin salah satu mekanisme bahwa keturunan menunjukkan jejak dari nenek moyang mereka.
"Sama sekali tidak ada keraguan bahwa apa yang terjadi pada sperma dan sel telur akan mempengaruhi generasi berikutnya."
Pakar mengatakan hasil ini sangat penting bagi penelitian terhadap fobia dan penyakit kecemasan.
Prof Marcus Pembrey, dari University College London, mengatakan temuan itu "sangat relevan dengan fobia, kecemasan dan gangguan stres pasca-trauma" dan memberikan "bukti kuat" bahwa bentuk ingatan bisa diturunkan antara generasi."

Sumber : BBC Indonesia